LINK PAMERAN VIRTUAL (VIRTUARTS)

Ngluruk Tanpa Bala, Mênang Tanpa Ngasoraké,
Sakti Tanpa Aji-aji, Sugih Tanpa Bandha.

Menyerbu Tanpa Pasukan, Menang Tanpa Merendahkan,
Sakti Tanpa Pusaka, Kaya Tanpa Harta. –  Semar

Sekumpulan anak sekolah dasar tampak mengerubungi sebuah booth berwarna-warni. Di atas pedestal terpajang objek yang terasa asing—tapi sekaligus akrab: fragmen-fragmen visual bergaya kontemporer terbingkai rapi, bermain dengan warna cerah dan garis tegas ala ilustrasi vektor yang lekat dengan budaya visual hari ini. Meskipun mengusung gaya ilustrasi modern, objek yang sedang diamati anak-anak ini adalah produk kreatif yang belum pernah mereka temui sebelumnya—Wayang Eblek. Wayang Eblek merupakan karya Dr. Drs. Lintang Widyokusumo, M.F.A., dosen senior Master of Design (S2 Desain) BINUS Graduate Program sekaligus desainer yang telah malang melintang di industri kreatif visual. Melalui karya ini, Pak Lintang menghadirkan eksplorasi visual yang modern, eksperimental, dan playful, dengan pijakan kuat pada tradisi luhur wayang Jawa. Bahasa visualnya terasa ringan dan kontemporer, namun tetap menyimpan jejak nilai, karakter, serta narasi budaya yang mendalam.

Karya ini menjadi upaya mempertemukan warisan wayang dari masa lalu dengan selera tontonan generasi muda yang terus berubah. Kedekatan Pak Lintang dengan wayang bukanlah sesuatu yang datang belakangan. Minat ini tumbuh sejak kecil, dibentuk oleh lingkungan keluarga yang memiliki keterkaitan dan keterikatan kuat dengan dunia seni wayang. Sejak itu, wayang menjadi subjek yang terus ia eksplorasi dan tafsir ulang—tidak dibekukan sebagai artefak masa lalu, melainkan dihidupkan kembali melalui berbagai medium visual kontemporer yang terus berkembang mengikuti zaman. Wayang sendiri memiliki sejarah panjang sebagai medium hiburan sekaligus pendidikan rakyat sejak masa kerajaan-kerajaan klasik di Jawa. Keberadaannya sudah didokumentasikan dalam Prasasti Kuti berangka tahun 762 Saka atau 840 Masehi. Wayang menyampaikan ajaran moral, refleksi hidup, dan pandangan filosofis melalui simbol, tokoh, serta cerita yang mudah diakses oleh masyarakat luas.

Dalam konteks ini, Wayang Eblek dan eksplorasi visual lain yang dilakukan oleh Pak Lintang hadir sebagai perpanjangan dari fungsi tersebut—sebuah upaya menerjemahkan kembali nilai tradisi ke dalam bahasa visual yang relevan bagi generasi hari ini. Eksplorasi tersebut kini dihadirkan dalam ruang pamer virtual VirtuArts, sebuah platform milik BINUS yang membuka pengalaman berpameran baru bagi seniman visual, desainer, dan arsitek di ranah digital. Pada edisi ke-11 ini, VirtuArts menjadi medium yang memungkinkan Wayang Eblek tampil tidak hanya sebagai objek visual, tetapi sebagai pengalaman, menjembatani tradisi dan inovasi, budaya dan teknologi, masa lalu dan—siapa tahu—masa depan.

Melalui pameran ini, pengunjung diajak menyelami bagaimana wayang dapat terus bergerak, berubah, dan berbicara dalam bahasa visual yang segar, tanpa kehilangan akarnya. Sebuah pertemuan antara ingatan kultural dan eksperimentasi kontemporer, yang sepenuhnya hidup di ruang virtual.

Jakarta, 28 Januari, 2026 Ardiyansah BINUS Digital