Menggabungkan Tradisi dan Inovasi: Menghidupkan Kembali Seni Tradisional Indonesia Melalui Design Thinking

Jakarta, 14 Februari 2025 – Master of Design kembali menyelengarakan Master Class dengan judul: Design Thinking &Tradition Art Practices. Indonesia, sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 1.300 kelompok etnis, memiliki kekayaan budaya yang tak terbatas yang menjadi sumber inspirasi utama bagi industri kreatif. Namun, tantangan besar muncul ketika seni tradisional seringkali dipandang hanya sebagai bentuk pelestarian budaya statis, bukan sebagai aktivitas pemecahan masalah yang adaptif terhadap zaman.

Memahami Design Thinking dalam Konteks Budaya
Design Thinking didefinisikan sebagai pendekatan inovasi yang berpusat pada manusia, mengintegrasikan kebutuhan masyarakat, kemungkinan teknologi, dan persyaratan keberhasilan bisnis. Proses ini bersifat non-linear dan iteratif, yang mencakup lima tahapan utama: Empathize, Define, Ideate, Prototype, dan Test.
Berbeda dengan praktik seni tradisional yang biasanya bersifat linear, berbasis keterampilan, dan berorientasi pada pelestarian “pakem” atau aturan standar, Design Thinking menawarkan fleksibilitas untuk bereksperimen. Melalui metode ini, seniman dan pengrajin didorong untuk tidak hanya mengikuti visi internal atau warisan, tetapi juga berempati terhadap kebutuhan pengguna akhir.
Studi Kasus: Transformasi Wayang Eblek


Kolaborasi untuk Masa Depan
Lintang Widyokusumo dalam materinya menekankan bahwa kolaborasi antara seniman tradisional, desainer, dan pemangku kepentingan lainnya adalah kunci untuk menciptakan produk yang relevan secara sosial di masa depan. Pendekatan ini juga berfungsi sebagai alat untuk melawan homogenisasi budaya kontemporer, memastikan identitas lokal tetap terjaga di tengah arus standarisasi global.
#s2 #desain #binus #master #magister
Comments :